ktm indonesia

ARIPITSTOP.COM – Sudah berumur 39 tahun namun Rossi belum mau berhenti balapan, bahkan Rossi bisa saja balapan sampai musim 2020 saat dirinya menginjak umur 41 tahun. Hasrat untuk melengkapi juara dunia 10 kali menjadi gosip dirinya tidak mau segera pensiun meskipun akhir2 ini performanya sudah mulai menurun meskipun saat ini dengan alasan utama motor M1 yang memang bermasalah. Hingga Alberto Puig berkomentar bahwa Rossi tidak bisa menerima kalau masanya sudah mulai habis.

Pada tahun 2015 silam, Rossi sudah sangat dekat dengan gelar kesepuluhnya, hanya butuh 5 poin saja akan tetapi drama besar terjadi dengan Marquez. Sejak itu hubungan mereka langsung renggang bahkan rentan gesekan. Pluig menganggap Rossi menjadi biang keladi rivalitas antara keduanya.

“Valentino adalah pembalap luar biasa, saya sangat menghormatinya. Dengan umurnya saat ini [39], ia masih memiliki hasrat dan talenta untuk melaju kencang. Dan ia tak menerima tak bisa menang,” ujar Puig kepada surat kabar harian Spanyol, La Vanguardia.

“Namun, ia kesulitan menerima bahwa masanya telah berakhir. Terkadang, cara yang dilakukannya tidaklah benar. Tidak pernah saya melihat Marquez keluar dari jalurnya, melakukan hal berbahaya terhadap Rossi. Itu selalu insiden balapan.

“Saya menghormati Rossi, namun dalam hidup segala sesuatu ada masanya. Dan suka atau tidak, Marquez adalah nomor satu saat ini.”

Rossi pernah mengkritik keras perilaku Marquez di Termas de Rio Hondo, Argentina, kejadian tersebut membuat Rossi tersungkur. Marquez coba meminta maaf kepada setelah balapan, namun usahanya digagalkan oleh tangan kanan Rossi, Uccio Salucci saat pembalap Honda itu menyambangi pitbox Yamaha.

Drama keduanya berlanjut di Misano, di mana Rossi enggan menyambut jabat tangan Marquez saat keduanya menghadiri konferensi pers jelang MotoGP San Marino.

“Marquez sama sekali tak peduli dengan gelombang opini dari lingkungan Vale. Sebaliknya, kami merasakan kelemahan dalam tindakan mereka. Marc tidak bertingkah seperti seorang superstar, ia tidak berpura-pura menjadi seseorang bukan dirinya. Ia memiliki kerendahan hati dan rasa ingin tahu untuk mendengar, belajar, dan menghormati,” ujar Puig.

“Saat ia berada di atas motor, ia benar-benar pembunuh, dan itu harus dilakukannya. Ia adalah mesin yang diprogram untuk melaju dengan kecepatan penuh.

“Kesempurnaan tidaklah ada, namun ia cukup dekat. Kesempurnaan adalah menjadi yang terbaik, dan ia orangnya. Seberapa jauh dia bisa lebih baik lagi? Dengan usianya saat ini, ia masih memiliki ruang untuk pertumbuhan.” pungkas Puig.

4 KOMENTAR

Ketik Komentar Anda