ARIPITSTOP.COM – Di jaman yang serba canggih ini memang semua bisa dilakukan serba digital alias mengandalkan internet, mau makan saja tinggal pesan lewat internet. Akan tetapi kita harus bijak dalam menggunakan media internet dalam kehidupan kita, jangan selalu mengandalkan internet. Seperti ketika kita menggunakan aplikasi petunjuk jalan, atau yang lebih sering disebut sebagai Google Maps. Aplikasi ini sangat membantu, tetapi tidak jarang justru kita terjerumus kedalam lembah kesuraman.

Saya akui saya sendiri selalu mengandalkan Google Maps ketika pergi ke daerah atau melewati jalanan yang asing bagi saya, terutama ketika jalanan tersebut minim petunjuk informasi. Akan tetapi kita jangan percaya sepenuhnya dengan Google Maps terutama ketika jalanan yang kita lewati terasa aneh, lebih tanya ke penduduk sekitar terlebih dahulu. Jadi penggunaan Google Maps juga dipadukan dengan aplikasi TPS ( Tanya Penduduk Sekitar).

Bukan tidak percaya dengan Google Maps tetapi penggunaan aplikasi ini juga diimbangi dengan tanya ke penduduk sekitar karena biasanya penduduk sekitar lebih tahu kondisi jalanan yang sebenarnya, Gunakan Penduduk Sekitar (GPS).

Seperti yang dialami oleh rombongan pariwisata asal Solo ini, akibat sopir bus tidak tahu jalan maka mereka mengandalkan Google Maps. Biasanya aplikasi ini menunjukkan jalur mana yang paling cepat dilalui meskipun melewati jalanan sempit atau persawahan. Bus ini secara tidak sengaja dimasukkan ke sebuah perumahan dengan kondisi jalan yang pastinya sempit untuk sebuh bus besar, akibatnya ada tiang kabel telpon yang patah akibat bus nyangkut kabel telpon.

Nah kan… lebih baik malu bertanya meskipun tersesat. ech… lebih baik tanya daripada tersesat di jalan.

7 KOMENTAR

  1. disitu fungsi kondektur ato kenek buat turun dan tanya2 ke penduduk pas supir binun cari jalan

    malu bertanya sesat ke perumahan hehehehe

  2. Google map bukan GPS , bego dipeliharasih ….. biasanya penumpang sok pinter ngasih saran ngaco …..masuk perumahan masih ok, coba klw masuk gerbang alam gaib πŸ˜ πŸ˜ˆπŸ‘ΏπŸ‘Ή

  3. Jangan2 gmaps nya masih settingan buat motor.. klo mobil udah segede bus ya usahakan tetap jalan besar walo mutar, yg penting tau ke tujuan

  4. jadi ingat tahun 2006 dulu pernah keluyuran ke Bali pakai aplikasi GPS Garmin dengan map terbaru hasil download dari website lokal (nv nt),
    sama aplikasi GPS nya kita diarahkan masuk gang gang sempit padahal saat itu lagi bawa mobil dan setting vehicle -nya juga sudah pilih Car, bukan Bike.
    akhirnya settingan vehicle diganti Bus, baru diarahkan lewat jalan yg ‘normal’

  5. Sorry nih mas.. yg salah adalah usernya.. Gmaps diciptakan untuk menunjukan jalan bagi pengendara mobil, motor, pesepeda dan pejalan kaki (jika ingin naik transportasi umum).

    Selama ini saya kemana-mana ngendarain mobil, selalu standby GMaps/aplikasi penunjuk jalan lainnya. Ngga pernah nyasar, tp selalu menunjukan klo jalan itu bisa dilintasi mobil (Bukan TRUCK/BIS)
    Nah, kita sbg user juga harus tau dong peruntukan aplikasinya dan untuk dipakai dimana dan dengan apa.
    Jangan selalu melihat 1 sisi, ente liat sisi sbg usernya ngga?
    User juga berperan penting dlm pengembangan aplikasi tsb. Coba anda sbg user Gmaps atau aplikasi lain, beri masukan kepada developer aplikasinya kalo ini bisa ngga dipakai buat untuk kendaraan besar macam bis/truck.

    Itu dari padangan saya. Saya sih klo misal di dalam bis, liat maps cuma buat ngasih tau aja klo jalan ini macet dll (tidak menunjukan arah).
    Sebagai supir yg jam terbangnya tinggi, harusnya tau medan jalan arau arah yg dilalui juga πŸ™

Tinggalkan Balasan ke pathos Batalkan balasan